Villa Hutan Jati
Membangun Generasi Muda Agraris
  • 12 April 2014 -

    Beri aku sepuluh orang pemuda maka aku akan merubah dunia (Soekarno).

    Ucapan ini tentu tidak sesederhana mengucapkannya, tetapi pemuda memang selalu menjadi harapan bagi bangsa dan negaranya. Keperdulian terhadap generasi muda Indonesia di tengah persaingan global, membuat kita harus bisa menciptakan paradigma baru bagi para anak muda kita ke depan, kalau kita tidak ingin mereka menjadi generasi yang gagal dalam percaturan dunia. Di tengah makin sulitnya lapangan kerja bagi generasi muda, sudah selayaknya juga kita selalu bisa membukakan lapangan pekerjaan yang baru, mensejahterakan dan mampu mengangkat martabat generasi yang akan datang di mata bangsa-bangsa lain.

    Dan generasi yang cinta juga terampil menyembuhkan bumi, ramah pada lingkungan dan tanggap menjaga keseimbangan alam adalah generasi yang dicari di masa ke depan nanti setelah banyak bencana terjadi atas kerusakan bumi yang kita ciptakan sendiri

        
    *

    Berbasis sebagai negeri agraris, maka 2/3 masyarakat Indonesia kita tercinta ini menggantungkan hidup dari pertanian. Mengabaikan pertanian jelas akan membuat terabaikannya nasib 2/3 penduduk negeri kita. Tak heran jika di negeri kita dengan kekayaan sumber daya alamnya yang luarbiasa, masih saja terkukung dalam kemiskinan. Karena pembangunan tidak benar-benar di jantungnya kehidupan bangsa kita. Pembangunan berbasis industri, properti dan aneka konsumsi lainnya, tak akan bisa menyerap keseluruhan dari kebutuhan lapangan pekerjaan bangsa kita.

    Tak ada yang perlu disesali, tak ada yang perlu dicari siapa yang salah. Kini adalah saatnya kita bersegera menyelamatkan nasib negeri kita ke depan. Pembangunan harus ditujukan langsung ke jantungnya kemiskinan negeri kita. Kita harus percaya, negeri yang kuat adalah negeri yang mengerti benar bagaimana masyarakatnya, bukan negeri yang selalu tergoda oleh gemerlap negeri orang.

    Persoalan yang telah menumpuk sebagai akibat dari penggabaian pertanian, harus diselesaikan dengan bijaksana. Persoalan kepemilikan lahan, juga alih fungsi lahan pertanian yang telah mengurangi banyak lahan subur, tak perlu menyurutkan semangat. Ada banyak lahan kritis yang sekian lama terbelengkalai yang bisa dikonservasi dan diolah kembali untuk menjadi ekosistem baru. Tak hanya kembali hijau, tak hanya kembali rimbun dan memberikan oksigen yang sehat bagi kita, juga kembali menyimpan air dalam tanah dan kembali memiliki nilai ekonomi baru. Juga masih ada banyak kepemilikan lahan yang sekiranya semua pihak yang terkait mulai menyadari untuk mengembangkan pertanian yang bisa mengentaskan kemiskinan, menjembatani kesenjangan dan maju bersama sebagai satu Indonesia.

    Manusia sebagai bagian lingkungan, terlebih sebagai bagian dari ekosistem baru yang dibentuk harus memiliki sinergi dengan ekosistem yang baru itu sendiri. Maka kemudian pembelajaran tentang pertanian ditujukan bukan sekedar untuk mengerti bagaimana bertani. Tapi juga merupakan proses pembudayaan dan pembentukan karakter.

    Pertanian kembali mengajak anak-anak muda kita untuk tak mimpi akan segala yang serba instan. Pertanian mengajari tentang apa yang ditanam, itulah kemudian yang akan dipanen. Mengajak untuk tekun dan memperhatikan pertumbuhan sebagai keperdulian. Mengajak untuk menghargai setiap kehidupan sebagai rasa mencintai segala yang hidup bersamanya. Mengasah kembali kepekaan anak-anak muda kita setelah terkukung oleh kehidupan materi di sekitarnya. Sebagai bagian dari kehidupan, para pemuda, juga kita semua, tumbuh kembang bersama semua yang kita tanam.

    Untuk terus mempersiapkan sumber daya manusia dari program konservasi lahan kritis bekas pertambangan timah bersama Pemerintah Daerah Belitung Timur, kembali Villa Hutan Jati menerima kehadiran kelompok kedua dari para pemuda Belitung pada bulan Maret 2014 lalu. Tetap dengan jumlah yang sama, sepuluh orang pemuda dan dua orang pendamping. Kali ini di antaranya lulusan S1, setelah sebelumnya rata-rata usia SMA.

    Beranjak dari pengalaman yang luarbiasa bersama kelompok pertama, di kelompok kedua ini pelatihan akan ditempuh dalam waktu lebih lama yakni selama 4 bulan, setelah sebelumnya kelompok pertama menempuh pelatihan selama 3 bulan. Harapannya kelompok yang kedua ini akan mendapat pelatihan untuk pengolahan pasca panen. Dan Villa Hutan Jati secara khusus juga mengatur materi dan waktu agar peserta mendapat pelatihan pengolahan pasca panen.

    Hebat, di kelompok kedua ini, para adik-adik pemuda Belitung semakin kritis dan semakin pesat kemajuannya. Mungkin karena telah mendapatkan cerita dari pengalaman kelompok yang pertama dan mulai menyadari jalan keluar lain bagi masa depan mereka. Jalan keluar yang lebih membanggakan dan memerdekakan, daripada sekedar menjadi korban dari pembangunan yang masih belum berpihak kepada usia produktif seperti mereka secara menyeluruh, selain hanya menjadi buruh tambang. Bagaimanapun, menekuni konservasi untuk menyembuhkan bumi dan mengembangkan pertanian adalah hal yang menjanjikan ke depan terlebih di daerah mereka yang telah semakin rusak oleh usaha pertambangan timah dan aneka hasil tambang lainnya. Bahkan menurut cerita ibu Mariana, jajaran Dinas Pertanian Pemerintah Daerah Belitung Timur yang sejak pertama program ini dimulai selalu setia mengantar putra-putra Belitung belajar ke Villa Hutan Jati, ada seorang camat di wilayahnya yang sempat agak marah dan kecewa karena putra di wilayah sang camat belum mendapat kesempatan belajar di Villa Hutan Jati.

    Sangat tidak disangka, antusias agar pemuda kembali pada pertanian telah menggejala di kalangan masyarakat dan semoga bisa segera ditindak lanjuti oleh Pemerintah Daerah Belitung Timur dan semua pihak terkait untuk melaksanakan program konservasi lahan kritis bekas pertambangan di wilayahnya agar semangat sembuhkan bumi dan kembali pada pertanian kian nyata dan menjadi contoh juga solusi, baik untuk mengatasi lahan kritis juga untuk kesejahteraan kehidupan generasi yang akan datang.

    Bersama tulisan ini, Villa Hutan Jati bersama Pemerintah Daerah Belitung juga akan masih terus membicarakan program konservasi dan pembangunan ekosistem baru yang akan diterapkan di wilayah Belitung Timur. Yang semoga bisa menjadi contoh nyata bentuk mereklamasi lahan kritis bekas kegiatan pertambangan dan energi yang sebenar-benar memberi nilai ekonomi baru yang mensejahterakan bagi masyarakat sekitar.
     

    Mari keluar dari fakta dan persepsi bahwa masyarakat sekitar pertambangan harus miskin dan terbuang. Mari bergegas menjadi bagian dari usaha menyelamatkan lingkungan dari menjadi yang selalu merusak alam.

    Semoga semua pihak terkait memiliki keperdulian yang besar untuk mencarikan solusi yang nyata tentang konservasi lahan kritis bekas pertambangan dan kembali menghidupkan pertanian.  Membangun generasi muda agraris adalah jalan untuk menjawab banyak persoalan negeri kita tercinta. Tentang ketahanan pangan, lapangan pekerjaan, juga kelestarian lingkungan. Dan Laskar Petani Belitung Timur semoga bisa sesegeranya merintis perubahan ini. Ingin membangun bangsa? Mari..

    (bbk/vhj)
  • Global warming, krisis pangan, krisis energi dan kemiskinan mayoritas petani adalah masalah serius yang kita hadapi saat ini.  Kondisi diatas mendorong kami berperan aktif meminimalisir masalah-masalah tersebut.  Villa Hutan Jati diinisiasi untuk menjadi pilot project  mengatasi krisis pangan, krisis energi, dampak global warming dan kemiskinan mayoritas petani. Villa Hutan Jati dikelola dengan prinsip  Sosial Enterpreneurship dan sebagai fasilitor perusahaan-perusahaan dalam menjalankan  program CSR serta CER-nya.  [Lebih Lanjut >>]