Villa Hutan Jati
LATAR BELAKANG
  • Dunia saat ini sedang mengalami dampak Global Warming, Krisis Pangan dan Energi.  Indonesia disamping mengalami dampak Global Warming, terdapat 98 juta Ha lahan kritis dan terlantar, hanya sekitar 12.5 juta Ha yang terdiri dari lahan ber-irigasi dan tadah hujan. Dampak dari tanah yang gundul dan kritis adalah  permukaan tanah menjadi kedab air, sehingga air hujan langsung terbuang ke laut yang berakibat cadangan air dalam tanah menjadi kering. Terkikisnya hara tanah sehingga tanah menjadi miskin dan tandus, sehingga bila hujan lebat dapat menyebabkan terjadi banjir dan tanah longsor. Tanah yang gundul dan kritis juga berdampak pada kualitas udara bertambah kotor karena tidak ada pohon yang bisa menyerap CO2 dan menghasilkan O2.

    Indonesia juga menghadapi masalah pangan yang serius, generasi muda petani sudah tidak berminat lagi menjadi petani sebagai dampak selama ini penghidupan petani selalu miskin. Petani-petani yang masih bertahan sudah berusia lanjut sehingga produktifitasnya rendah. Populasi penduduk Indonesia sebanyak 60% adalah keluarga petani dan 60% dari petani tersebut sebagai buruh tani dengan kepemilikan lahan yang rata-rata hanya sekitar 0,2 Ha. Sekitar 3 juta Ha (dari 5 juta) lahan beririgasi miskin hara akibat pemakaian pupuk kimia selama ini.

    Disamping terjadi kemiskinan lahan produktif, terjadi pula kemiskinan petani yang disebabkan antara lain oleh : Kepemilikan  lahan petani yang  sempit, rata-rata hanya 0,2 Ha/KK; Pemakaian pupuk kimia yang tambah hari dosis dan harganya terus naik; Maraknya peredaran pupuk dan bibit palsu; Penetapan harga gabah yang tidak sesuai dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan petani (nilai tukar petani rendah); Tidak memiliki modal kerja sendiri, sehingga sering terjebak hutang dengan bunga tinggi; Tidak mempunyai akses pasar sendiri,sehingga sangat tergantung pada tengkulak; Produktivitasnya rendah, akibat kesuburan tanah pertaniannya yang  terus menurun dan peralatan yang dipakai sudah ketinggalan zaman; Dalam satu musim tanam (3,5 bln) praktis mereka hanya bekerja  15 hari, karena tidak ada pekerjaan yang  bisa dilakukan di desa-desa yang mempunyai nilai ekonomi. Bila hal tersebut tidak segera diatasi dalam beberapa saat lagi Indonesia akan mengalami krisis SDM petani dan krisis pangan akibat banyaknya terjadi gagal panen yang dikarenakan anomali iklim sebagai dampak Global Warming.

    Selanjutnya Indonesia juga menghadapi masalah energi, hal ini karena selama ini sumber-sumber energi yang diperoleh dari alam (fosil) sudah menipis persediaannya dan untuk masa depan energi fosil hanya bisa digantikan dengan energi terbarukan yang diproduksi dari biji-bijian dan umbi-umbian hasil pertanian.

    Kendala terberat terutama dalam hal tanggung jawab dalam menghadapi global warming,  krisis pangan serta krisis energi adalah dalam merubah mindset masyarakat.  Generasi muda sudah langka yang mau menjadi petani, masyarakat pada umumnya kurang peduli tehadap pelestarian alam yang berkelanjutan, sehingga sulit sekali mengajak mereka untuk BERSAMA SEMBUHKAN BUMI.  Biaya konservasi dan pelatihan sangat mahal sekali, dan belum ada bank yang menyediakan kredit non komersial untuk membiayai program konservasi lahan serta pelatihan petani. Ketersediaan pangan yang semakin hari semakin berat yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah lahan kritis / degradasi lahan akibat pengelolaan yang tidak tepat ditambah tingginya laju pertumbuhan penduduk.  Sedangkan untuk mengolah lahan kritis agar menghasilkan produk pangan memerlukan biaya yang sangat tinggi sehingga sulit sekali dilakukan oleh petani secara sendiri-sendiri. Meskipun berbagai cara untuk menangani lahan kritis telah dilakukan oleh pemerintah seperti melakukan penghijauan dan reboisasi tetapi belum mencapai hasil yang cukup memadai, yang dikarenakan kurang tepatnya metode yang digunakan dan atau tidak dilibatkannya masyarakat dengan sepenuhnya.  Sehingga masih sangat dibutuhkan berbagai inisiatif masyarakat terutama korporasi dalam menaggulangi permasalahan mendasar tersebut.

    Solusi untuk mengatasi masalah-masalah tersebut salah satunya adalah dengan melakukan konservasi lahan kritis, air dan pohon  serta pemberdayaan ekonomi petani,  pada akhirnya secara menyeluruh mampu mereduksi dampak global warming, kemiskinan, krisis pangan dan krisis energi sekaligus.

    Berdasarkan kondisi dan permasalahan yang ada diatas, maka konsep melakukan konservasi lahan dengan cara yang benar, ramah lingkungan dan bersinergi adalah latar belakang berdirinya Villa Hutan Jati dengan semboyannya BERSAMA SEMBUHKAN BUMI.

  • Membangun Generasi Muda Agraris
  • 12 April 2014 : Beri aku sepuluh orang pemuda maka aku akan merubah dunia (Soekarno). Ucapan ini tentu tidak sesederhana mengucapkannya, tetapi pemuda memang selalu menjadi harapan bagi bangsa dan negaranya. Keperdulian terhadap generasi muda Indonesia..[Lebih Lanjut >>]
  • LASKAR PETANI
  • 12 Januari 2014 : Menyambung dari tulisan liputan sebelum ini, rombongan pertama peserta program Pelatihan Konservasi Lahan Kritis dan Pola Pertanian Ramah Lingkungan dari Belitung Timur yang telah disepakati oleh Pemerintah Daerah Belitung Timur dan Villa..[Lebih Lanjut >>]